Kota Baitul Maqdis (Al Quds, Yerussalem) dan tanah Syam (sekarang adalah Suriah, Yordania, Palestina, Lebanon, Israel) mempunyai sejarah yang panjang sebagai tanah yang paling dipersengketakan di antara manusia di muka bumi. Itu tidak mengherankan, sebab Baitul Maqdis dan tanah Syam mempunyai kedudukan penting (significance) bagi semua umat manusia dan menjadi tanah utama yang berkaitan dengan hubungan manusia dengan Allah SWT, sejak dahulu sampai Hari Kiamat nanti.
Bagi umat Islam khususnya, Baitul Maqdis dan tanah Syam –sebagai bagian tak terpisahkan dari negeri Islam– mempunyai kedudukan strategis yang berkaitan langsung dengan agama Islam itu sendiri.
Kedudukan Strategis Baitul Maqdis dan Tanah Syam
Paling tidak terdapat 8 (delapan) kedudukan strategis Baitul Maqdis dan tanah Syam bagi umat Islam, yaitu sebagai :
Masjid
Al Aqsha di Palestina tercatat sebagai salah satu masjid tertua dan
memiliki nilai religius tinggi bagi umat Muslim. Sejarah bahkan
mencatat, masjid agung tersebut merupakan kiblat pertama sebelum
kemudian berganti ke Kabah. Terdapat beberapa hadis yang diriwayatkan
oleh Imam Bukhari dan Muslim, yang menegaskan bahwa selama Nabi Muhammad
SAW bersama para sahabat berada di Madinah, mereka melaksanakan shalat
dengan berkiblat ke Masjid Al Aqsha. Hal ini terus dilaksanakan selama
enam belas bulan.

